Surat-Kabar.com | Makassar – Dua tahun pemerintahan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka menjadi sasaran kritik mahasiswa Universitas Hasanuddin (Unhas). Dalam aksi unjuk rasa di depan Pintu 1 Unhas, Jalan Perintis Kemerdekaan, Makassar, Kamis (22/10/2026).
Mahasiswa menyoroti lonjakan biaya hidup, penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), hingga pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Ratusan mahasiswa turun ke jalan untuk mendesak evaluasi kebijakan pemerintah pusat. Mereka mempertanyakan sejauh mana kebijakan yang dijalankan selama dua tahun terakhir berdampak terhadap kesejahteraan masyarakat, terutama kelompok ekonomi bawah.
“Dua tahun kepemimpinan Prabowo-Gibran terbukti gagal membawa kesejahteraan bagi rakyat. Kebijakan-kebijakan yang diambil justru semakin mencekik leher masyarakat kecil,” teriak salah seorang orator dari atas mobil komando.
Mahasiswa menyoroti kenaikan harga kebutuhan pokok yang dinilai tidak sebanding dengan pendapatan masyarakat. Mereka juga mempersoalkan kebijakan pemangkasan atau pencabutan sejumlah subsidi energi dan kebutuhan dasar yang dianggap berpotensi memperberat beban rumah tangga.
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) turut menjadi sorotan dalam kritik mahasiswa terhadap arah kebijakan pemerintah, mereka menuntut agar pelaksanaan program tersebut dievaluasi secara serius, termasuk dari sisi penggunaan anggaran, pengawasan, dan manfaat yang benar-benar diterima masyarakat.
Dalam aksi itu, mahasiswa juga menggunakan ungkapan “SPPG: Satuan Penjilat Prabowo-Gibran” sebagai sindiran politik. Ungkapan tersebut diarahkan kepada Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), unit yang berkaitan dengan pelaksanaan program MBG.
Sindiran tersebut mencerminkan kritik mahasiswa terhadap pihak-pihak yang mereka anggap lebih menonjolkan pembelaan terhadap kebijakan pemerintah ketimbang menyampaikan evaluasi atas pelaksanaannya.
Selain persoalan ekonomi dan MBG, mahasiswa mengkritik penanganan karhutla, mereka menuntut pemerintah mengevaluasi upaya pencegahan dan penanggulangan kebakaran hutan beserta dampaknya terhadap masyarakat.
Persoalan tersebut dinilai tidak bisa dipandang semata sebagai masalah lingkungan karena juga berkaitan dengan kesehatan dan keselamatan warga.
Mahasiswa mendesak pemerintah meninjau kembali kebijakan makroekonomi dan pelaksanaan program prioritas agar manfaat pembangunan dapat dirasakan secara lebih merata.
Mahasiswa menilai janji kampanye mengenai peningkatan kesejahteraan harus diukur melalui hasil nyata bagi masyarakat.
Aksi tersebut berujung pada penutupan badan jalan, massa memblokade arus lalu lintas menggunakan truk tronton sebagai mobil komando dan membakar sejumlah ban bekas. Akibatnya, kendaraan dari arah Makassar menuju Maros maupun sebaliknya tidak dapat melintas.
Kemacetan mengular hingga lebih dari dua kilometer. Sepeda motor, mobil pribadi, dan angkutan umum atau pete-pete terjebak dalam antrean panjang sejumlah pengendara terlihat berupaya mencari jalur alternatif untuk menghindari titik aksi.
Personel Polrestabes Makassar bersama Polsek Tamalanrea melakukan pengamanan dan mengarahkan pengendara ke jalur alternatif guna mengurai kepadatan.
“Kami mengimbau para pengendara untuk bersabar dan menggunakan jalur alternatif guna menghindari titik aksi unjuk rasa di depan Pintu 1 Unhas ini,” ujar seorang petugas pengamanan lalu lintas di lokasi.
Hingga menjelang senja, aksi masih berlangsung dengan pengawalan aparat kepolisian. Mahasiswa menyatakan akan kembali menggelar unjuk rasa apabila tuntutan mereka mengenai kesejahteraan rakyat tidak mendapat respons serius dari pemerintah pusat.
(Mahar)






