Surat-Kabar.com | Bentrokan antarwarga Kelurahan Nunu dan Kelurahan Tatura Utara (Anoa), Kota Palu, Sulawesi Tengah, kembali pecah dan menelan satu korban jiwa. Insiden berdarah yang terjadi di kawasan Jembatan Lalove, Kecamatan Tatanga, Rabu (28/10/2026) sore, menambah daftar ketegangan antara kedua kelompok warga tersebut.
Peristiwa ini menjadi bentrokan kedua dalam sehari. Sebelumnya, kedua kelompok terlibat saling serang pada Rabu dini hari sekitar pukul 03.00 Wita. Situasi kembali memanas sekitar pukul 17.00 Wita hingga berujung jatuhnya korban meninggal dunia.
Kapolresta Palu, Kombes Pol. Hari Rosena, membenarkan adanya korban jiwa dalam bentrokan tersebut. Meski demikian, pihak kepolisian masih menunggu laporan dari Rumah Sakit Budi Agung Palu untuk memastikan penyebab kematian korban.
Aparat Polresta Palu bersama personel Polsek Palu Selatan sebelumnya telah diterjunkan ke lokasi saat bentrokan dini hari terjadi. Petugas berupaya mengendalikan keadaan hingga kedua kelompok membubarkan diri. Namun, bentrokan kembali terjadi pada sore harinya.
Insiden tersebut membuat warga yang bermukim di sekitar Jembatan Lalove dilanda kepanikan. Mereka terpaksa menyelamatkan diri ketika aksi saling serang kembali terjadi di kawasan permukiman.
Abdul Sali, warga yang tinggal di perbatasan kedua kelurahan, mengatakan situasi awalnya masih normal pada sekitar pukul 03.00 hingga 04.00 Wita. Namun, sekitar satu jam kemudian, sejumlah orang dari wilayah Anoa mulai berdatangan dan membuat suasana berubah tegang.
Sali mengaku langsung berlari ke belakang rumah saat melihat kerumunan di jalan. Dari sana, ia mendengar suara tiang listrik dipukul. Ketika kembali ke depan rumah, kedua kelompok sudah saling serang menggunakan batu dan petasan.
Ia juga mendapati warung yang berada di depan rumahnya telah terbakar. Khawatir bentrokan semakin meluas, Sali segera mengamankan barang-barang berharga, termasuk memindahkan sapi peliharaannya ke tempat yang lebih aman.
Kepanikan juga dirasakan Dina Safitri. Warga yang rumahnya tidak jauh dari jembatan itu mengaku ketakutan melihat kedua kelompok saling kejar. Ia menyaksikan petasan, parang, hingga panah digunakan dalam bentrokan.
Dina menyebut bentrokan kali ini berbeda dari kejadian sebelumnya. Jika biasanya keributan pecah pada tengah malam hingga menjelang subuh, kali ini aksi saling serang justru berlangsung pada sore hari.
Ia berharap konflik antara kedua kelompok warga segera dihentikan dan tidak kembali menimbulkan korban. Dina juga meminta aparat keamanan memperketat patroli di kawasan tersebut agar masyarakat yang tidak terlibat konflik dapat beraktivitas dengan aman.
(Aditya)






