Surat-Kabar.com | Dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah mulai dirasakan di Kota Makassar, Sulawesi Selatan. Kabut asap yang memengaruhi kualitas udara tak hanya mengganggu aktivitas masyarakat, tetapi juga berdampak pada operasional penerbangan di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin.
Akibat kondisi tersebut, sedikitnya tujuh penerbangan pada Senin (12/10/2026) mengalami pembatalan. Sebanyak 1.070 penumpang tercatat terdampak akibat pembatalan penerbangan yang melibatkan maskapai Lion Air, Sriwijaya Air, dan Wings Air.
General Manager Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Ruly Artha, mengatakan pembatalan tersebut terjadi di tengah kondisi cuaca dan kualitas udara yang memengaruhi operasional penerbangan.
“Berdasarkan data operasional pada Senin, 12 Oktober 2026, tercatat 7 penerbangan mengalami pembatalan dengan total 1.070 penumpang terdampak. Pembatalan tersebut melibatkan maskapai Lion Air, Sriwijaya Air, dan Wings Air,” kata Ruly dalam keterangannya, Selasa (13/10/2026).
Tujuh penerbangan yang dibatalkan terdiri atas lima penerbangan Lion Air, satu penerbangan Sriwijaya Air, dan satu penerbangan Wings Air.
Penerbangan tersebut masing-masing Lion Air JT-940 rute Makassar-Sorong dengan 189 penumpang, Lion Air JT-888 rute Makassar-Ambon sebanyak 196 penumpang, serta Lion Air JT-944 rute Makassar-Sorong dengan 168 penumpang.
Selanjutnya, Sriwijaya Air SJ-902 rute Makassar-Sorong dengan 124 penumpang, Lion Air JT-896 rute Makassar-Ternate sebanyak 168 penumpang, Wings Air IW-1300 rute Makassar-Mamuju dengan 36 penumpang, dan Lion Air JT-980 rute Makassar-Ternate sebanyak 189 penumpang.
Manajemen bandara bersama maskapai telah melakukan koordinasi untuk menangani penumpang yang terdampak. Sejumlah langkah disiapkan, mulai dari pengembalian dana tiket atau refund, penjadwalan ulang penerbangan atau reschedule, hingga penyediaan area istirahat bagi penumpang.
Di sisi lain, kondisi kualitas udara di Makassar juga menunjukkan penurunan. Berdasarkan informasi BMKG Wilayah IV Makassar yang diperbarui pada 9 Oktober 2026 pukul 10.45 Wita, konsentrasi partikulat halus PM2.5 tercatat mencapai 85,3 mikrogram per meter kubik dengan kategori tidak sehat.
Kepala Pelaksana BPBD Makassar, Muh Fadli Tahar, mengatakan penurunan kualitas udara dapat dipengaruhi berbagai faktor, termasuk kebakaran hutan dan lahan, pembakaran terbuka, serta pergerakan angin yang membawa partikel asap dari wilayah lain.
Menurutnya, kondisi angin tertentu memungkinkan asap dari Kalimantan bergerak menuju Sulawesi Selatan. Sementara pergerakan angin dari arah timur juga berpotensi membawa asap dari kawasan Papua dan Maluku.
Selain kiriman asap dari luar daerah, kebakaran lahan di sejumlah wilayah Sulawesi Selatan juga berpotensi menjadi sumber partikulat yang memengaruhi kualitas udara Makassar.
“Penurunan kualitas udara dapat dipengaruhi oleh sejumlah faktor, termasuk kebakaran hutan dan lahan (karhutla), pembakaran terbuka, serta pergerakan angin yang membawa partikel dari wilayah lain,” ujar Fadli, Selasa (13/10/2026).
Meski demikian, Fadli mengingatkan masyarakat agar tidak berspekulasi mengenai asal kabut asap sebelum ada hasil pemantauan dan analisis resmi dari instansi berwenang.
“Oleh karena itu, BPBD mengimbau masyarakat tidak berspekulasi mengenai asal kabut asap dan tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi,” tegasnya.
Sementara itu, manajemen Bandara Sultan Hasanuddin terus berkoordinasi dengan AirNav Indonesia dan BMKG untuk memantau perkembangan cuaca dan mendukung kelancaran operasional penerbangan.
Ruly mengimbau calon penumpang untuk aktif memeriksa informasi terbaru melalui kanal resmi maskapai masing-masing serta memastikan kembali jadwal keberangkatan sebelum menuju bandara.
(Anri S)






