Surat-Kabar, Makassar | Kekacauan pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) 2025 di Sulawesi Selatan telah melewati batas toleransi. Aplikasi error, tes molor, dan soal tanpa jawaban benar menjadi bukti bahwa sistem yang dijalankan oleh Dinas Pendidikan Sulsel bukan hanya gagal, tapi juga merugikan ribuan siswa dan mencederai kepercayaan publik.
Kegagalan ini dinilai sebagai puncak dari akumulasi kelalaian dan buruknya manajemen pendidikan di Sulsel. Sekretaris Jenderal L-Kompleks, Ruslan Rahman, dengan tegas menyebut Dinas Pendidikan Sulsel telah mempermainkan masa depan anak-anak. Ia menuntut Gubernur Andi Sudirman Sulaiman segera mencopot Kepala Dinas Pendidikan, Iqbal Najamuddin, dan membubarkan panitia pelaksana SPMB.
“Gubernur jangan hanya jadi penonton! Ini bukan sekadar error teknis, tapi kegagalan struktural dan indikasi kuat adanya pemborosan anggaran. Kalau Gubernur tidak bertindak, publik berhak menduga ada pembiaran, atau bahkan keterlibatan,” tegas Ruslan, yang akrab disapa Angkel saat dikonfirmasi wartawan di Warkop 99 Makassar, Jumat (16/5/2025).
Ruslan menyoroti bobroknya aplikasi yang digunakan, mulai dari gangguan sistem hingga soal yang tak memiliki pilihan jawaban benar sama sekali. Ia mempertanyakan transparansi anggaran yang disebut mencapai miliaran rupiah dari APBD.
“Aplikasi seperti itu? Miliaran rupiah uang rakyat dikemanakan? Apakah itu aplikasi hasil sewa, beli, atau cuma plugin murahan yang ditempel sembarangan?” tegasnya.
Ia juga mengungkap bahwa masalah semacam ini terus berulang dari tahun ke tahun. Sayangnya, tidak ada evaluasi menyeluruh dari Pemerintah Provinsi Sulsel.
“Jika tidak ada tindakan tegas, publik bisa menyimpulkan Gubernur menutup mata — atau lebih parah lagi, ada ‘main mata’. Gubernur harus mencopot Kadis sekarang, atau legitimasi kepemimpinannya akan runtuh di mata rakyat,” katanya.
Sementara itu, dari internal Dinas Pendidikan Sulsel mulai terlihat adanya sikap saling lempar tanggung jawab. Mulyaman, salah satu staf teknis yang dikonfirmasi, menolak disebut sebagai bagian dari panitia pelaksana.
“Mohon maaf, itu bukan kapasitas saya. Saya hanya staf teknis di Disdik,” ujarnya singkat saat dihubungi.
Hingga berita ini diterbitkan, Kepala Dinas Pendidikan Sulsel, Iqbal Najamuddin, belum memberikan tanggapan meski telah dikonfirmasi oleh sejumlah wartawan. (anr)






