Surat-Kabar.com – Palu | Jumlah warga yang terinfeksi HIV/AIDS di Kota Palu terus menunjukkan tren peningkatan. Hingga pertengahan Oktober 2025, sebanyak 260 orang dengan HIV/AIDS (ODHA) tercatat masih aktif menjalani pendampingan medis, sementara 48 kasus baru ditemukan sepanjang tahun ini.
Tingginya angka tersebut mengindikasikan bahwa deteksi dini dan edukasi perilaku berisiko masih menjadi tantangan besar di wilayah perkotaan Sulawesi Tengah itu.
“Kelompok-kelompok berisiko HIV kami pantau secara rutin, dan hingga Agustus capaian pemeriksaan IMS sudah 85 persen dari target Standar Pelayanan Minimal,” ujar dr. Rossalin Lago, dokter layanan IMS, Jumat (17/10/2025).
Ia menuturkan, layanan pemeriksaan dan pengobatan tidak hanya dimanfaatkan oleh warga di sekitar wilayah kerja, tetapi juga oleh masyarakat dari berbagai kecamatan di Kota Palu hingga Kabupaten Sigi. “Yang datang berobat ada juga dari luar wilayah, seperti dari Palu dan Sigi,” kata Rossalin.
Infeksi Menular Seksual (IMS) sendiri merupakan penyakit yang ditularkan melalui hubungan seksual anal, vaginal, maupun oral, dan dapat disebabkan oleh bakteri, virus, atau parasit. Bila tak segera ditangani, IMS dapat berkembang menjadi penyakit menular seksual seperti gonore, klamidia, sifilis, herpes, hingga HIV. Pada tahap lanjut, HIV dapat berkembang menjadi AIDS, yang menyebabkan kerusakan sistem kekebalan tubuh secara parah.
Untuk menekan angka penularan, tenaga kesehatan bekerja sama dengan Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Sulawesi Tengah) melakukan pemeriksaan lapangan di lokasi-lokasi berisiko tinggi.
“Biasanya kami turun ke lapangan seperti panti pijat atau hotel. Sekalian kami lakukan skrining kesehatan gratis lewat program Sapa Sehat, termasuk pemeriksaan HIV,” jelasnya.
Selain pemeriksaan, layanan kesehatan juga menyediakan Pre-Exposure Prophylaxis (PreP) bagi kelompok dengan risiko tinggi tertular HIV. Program ini diharapkan mampu menekan angka infeksi baru sekaligus mendorong masyarakat untuk lebih terbuka terhadap layanan kesehatan reproduksi.
“Yang paling penting, jangan takut untuk memeriksakan diri. Semakin cepat diketahui, semakin besar peluang untuk dikendalikan,” tegas Rossalin.
(Aditya)






