Surat-Kabar.com | Aksi protes siswa SMA Negeri 5 Palu, Senin (15/9/2025), membuka babak baru dalam polemik pengelolaan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS). Siswa menilai dana BOS khusus kegiatan ekstrakurikuler tidak transparan dan terindikasi bermasalah karena tak kunjung dicairkan hingga pertengahan semester.
Informasi yang dihimpun, kegiatan ekstrakurikuler di sekolah tersebut terhambat akibat minimnya dukungan anggaran. Sejumlah siswa mengaku sudah beberapa kali menanyakan kejelasan pencairan dana, namun tidak mendapat jawaban pasti dari pihak sekolah.
Di tengah ketidakjelasan itu, para siswa justru menuding adanya pola intimidasi terhadap mereka maupun guru yang kritis. Hal ini tergambar jelas dalam spanduk yang dibentangkan saat aksi, seperti “Tolak Intimidasi Siswa dan Guru” serta “Seimbangkan Hak dan Kewajiban Siswa”.
Lebih jauh, aksi tersebut juga memunculkan sindiran tajam lewat tagar #KumisBeracun, yang diduga menyasar Kepala Sekolah. Sindiran itu dianggap simbol kekecewaan atas gaya kepemimpinan yang dinilai otoriter.
Sekretaris Jenderal Lembaga Komunitas Peduli Lingkungan Ekonomi Sosial (L-Kompleks), Ruslan Rahman, menilai persoalan yang terjadi di SMAN 5 Palu tidak bisa dipandang remeh.
“Ini bukan hanya soal dana BOS yang tidak cair, tapi soal keadilan dan iklim pendidikan yang sehat. Kalau benar ada intimidasi terhadap siswa dan guru, maka itu pelanggaran serius. Dinas Pendidikan harus turun tangan, melakukan investigasi, dan membuka audit transparan dana BOS,” tegasnya saat mintai tanggapan media, Selasa (16/9/2025).
Menurut Ruslan, aksi siswa SMAN 5 Palu merupakan cerminan keberanian generasi muda untuk bersuara. “Mereka sedang memperjuangkan hak yang seharusnya dijamin oleh negara. Jangan sampai suara mereka dibungkam hanya karena kepentingan segelintir orang,” tambahnya.
(Aditya)






