Surat-Kabar.com – Jakarta | Polemik soal identitas peretas “Bjorka” kembali mencuat setelah situs NetLeaks merilis data ribuan personel Polri.
Pada 23 September 2025, polisi menangkap seorang pemuda berinisial WFT (22) di Minahasa. Ia dituduh sebagai pemilik akun X “@bjorka/@Bjorkanesiaa” dan dijerat kasus akses ilegal serta manipulasi data bank yang diklaim menyasar 4,9 juta akun. Informasi ini disampaikan Polda Metro Jaya ke publik pada 2 Oktober 2025, dengan menegaskan proses hukum masih berlangsung.
Namun, pada 4 Oktober 2025, situs NetLeaks atas nama “Bjorka” justru mempublikasikan basis data 341.800 personel Polri dalam format CSV. Data tersebut berisi pangkat, nama, unit kerja, nomor ponsel, dan email.
Dalam unggahannya, Bjorka menyelipkan sindiran: “since the police in Indonesia allege that they have arrested me… you can only catch me in your dreams.” Rilis itu ditandai sebagai Free dengan catatan pelanggaran pada September 2025.
Pakar keamanan siber Teguh Aprianto menegaskan data yang beredar mencakup informasi pribadi aparat, mulai dari pangkat hingga satuan tugas. “Selain muncul di BreachForums, data itu juga dibagikan langsung lewat situs milik Bjorka,” ujar Teguh, Minggu (5/10/2025). Ia juga meragukan kebenaran penangkapan WFT. “Kemungkinan besar yang ditangkap bukan Bjorka asli, hanya orang yang menirukan,” kata dia.
Dari penelusuran menunjukkan data ribuan personel Polri yang dirilis Bjorka bukanlah data terbaru. Informasi tersebut diduga berasal dari sekitar tahun 2016, sehingga sebagian nama di antaranya sudah tidak aktif atau bahkan pensiun.
Sementara itu, analisis independen terhadap aktivitas daring WFT menunjukkan adanya perbedaan dengan pola operasional Bjorka yang dikenal luas. Sejumlah riset luar negeri terkait grup Skywave yang berkaitan dengan “Babuk-bjorka” mengindikasikan WFT hanya menjual ulang data lama yang sebelumnya telah bocor. Ia disebut berganti-ganti username, termasuk menggunakan nama samaran “Bjorka Asli.”
Investigasi internal terhadap arsip “babuk bjorka” yang sempat diunggah WFT pada Februari 2025 juga tidak menemukan kaitan teknis dengan infrastruktur maupun jejak publik Bjorka di NetLeaks. Bahkan, “Bjorka Asli” melalui kanal Telegram menyebut Skywave hanyalah seorang “impostor” yang menumpang popularitas dengan memakai nama dirinya.
(Hariadi)






