Surat-Kabar.com | Langit di sejumlah wilayah Kalimantan berubah menjadi oranye hingga merah menyala saat kebakaran hutan dan lahan atau karhutla melanda.
Fenomena tersebut terekam dalam sejumlah unggahan warga, salah satunya dari wilayah Paduran, Sabangau, Kalimantan Tengah.
Warna langit yang tidak biasa itu sempat memunculkan anggapan bahwa foto atau video yang beredar telah melalui penyuntingan, menggunakan kecerdasan buatan atau AI, hingga filter digital.
Namun, fenomena serupa merupakan peristiwa alam yang dapat terjadi ketika cahaya Matahari berinteraksi dengan partikel asap dalam konsentrasi tinggi di atmosfer.
Salah satu unggahan warga pada 20 September 2026 memperlihatkan langit berwarna merah-oranye di tengah kepungan asap karhutla di kawasan Paduran, Sabangau, Kalimantan Tengah.
Fenomena tersebut bukan menunjukkan atmosfer berubah menjadi merah. Warna itu muncul akibat cahaya Matahari yang melewati lapisan udara dengan konsentrasi partikel asap tinggi.
Peneliti Ahli Utama Bidang Astronomi dan Astrofisika BRIN, Thomas Djamaluddin, sebelumnya menjelaskan fenomena serupa ketika karhutla melanda Jambi pada 2019. Menurut dia, warna kemerahan pada langit berkaitan dengan hamburan Mie atau Mie scattering.
Ketika asap semakin tebal, tidak seluruh spektrum cahaya Matahari mampu menembus atmosfer. Gelombang cahaya dengan panjang gelombang lebih panjang, terutama kuning dan merah, lebih dominan mencapai mata pengamat setelah berinteraksi dengan partikel asap.
Partikel asap berukuran sangat kecil kemudian menghamburkan cahaya tersebut. Proses inilah yang membuat langit dapat terlihat kuning, jingga, bahkan merah.
Thomas menjelaskan partikel asap berukuran sekitar 0,5 hingga 0,7 mikron dapat menyebabkan cahaya Matahari mengalami hamburan Mie.
Fenomena itu berbeda dengan kondisi atmosfer yang relatif bersih. Dalam keadaan normal, molekul udara lebih banyak menghamburkan cahaya dengan panjang gelombang pendek. Proses tersebut dikenal sebagai hamburan Rayleigh dan menjadi salah satu penyebab langit tampak biru pada siang hari.
Ketika atmosfer dipenuhi asap karhutla, karakter hamburan cahaya berubah. Partikel asap dengan ukuran yang mendekati panjang gelombang cahaya membuat warna tertentu lebih dominan terlihat dari permukaan bumi.
Semakin pekat konsentrasi asap, semakin besar pula pengaruhnya terhadap cahaya Matahari yang mencapai mata manusia. Karena itu, langit di sekitar lokasi karhutla dapat berubah menjadi kuning, oranye, hingga merah.
Warna tersebut juga tidak selalu sama. Jika partikel di atmosfer berukuran lebih besar, cahaya dengan berbagai panjang gelombang dapat dihamburkan relatif merata. Kondisi itu membuat asap atau kabut lebih tampak putih maupun keabu-abuan.
Fenomena langit merah di Kalimantan dengan demikian berkaitan erat dengan kondisi atmosfer saat karhutla. Warna mencolok yang terekam warga bukan semata persoalan kamera atau filter, melainkan efek optik akibat interaksi cahaya Matahari dengan partikel asap di udara.
Di tengah fenomena tersebut, warga di sekitar wilayah terdampak karhutla terus menghadapi persoalan asap dan berharap kondisi cuaca berubah. Dalam unggahan yang beredar, warga juga menyerukan agar hujan turun untuk membantu meredakan kebakaran di kawasan terdampak.
(Zul)






