Surat-Kabar.com | Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI Jusuf Kalla (JK) menilai langkah Indonesia untuk meredakan ketegangan antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran bukan perkara mudah.
Ia menyebut konflik yang melibatkan kekuatan besar dunia tak bisa diselesaikan hanya dengan niat baik.
“Ya niat, rencana itu baik saja, tapi ini situasi yang jauh lebih besar masalahnya. Israel dengan Palestina saja sulit didamaikan, karena dunia ini sangat ditentukan oleh sifat Amerika,” ujar Jusuf Minggu (1/3/2026).
Pernyataan itu merespons inisiatif Presiden RI Prabowo Subianto yang menyatakan kesiapan Indonesia mengambil peran dalam diplomasi perdamaian di tengah memanasnya situasi Timur Tengah.
Bagi JK, problem utama bukan sekadar konflik regional, melainkan ketimpangan kekuatan global yang menentukan arah penyelesaian.
Menurut dia, mediasi akan sulit efektif jika para pihak berdiri dalam posisi tawar yang timpang. Dalam konfigurasi geopolitik saat ini, negara-negara besar memegang kendali atas eskalasi maupun deeskalasi konflik.
“Kalau kekuatannya tidak seimbang, sulit mencari titik temu,” ujarnya.
Eskalasi terbaru memperkeruh keadaan. Pada 28 Februari 2026, Iran dilaporkan menjadi sasaran serangan gabungan. Media pemerintah Iran menyebut Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, tewas dalam serangan tersebut. Informasi itu juga dikutip kantor berita internasional Associated Press. Pemerintah Iran menyatakan akan memberikan respons.
Ancaman pembalasan dari Teheran memicu kekhawatiran konflik meluas dan menyeret lebih banyak negara. Dalam konteks itu, wacana Indonesia tampil sebagai penengah menghadapi tantangan berat di antara idealisme politik luar negeri bebas-aktif dan realitas keras dominasi kekuatan global.
JK mengingatkan, di tengah dinamika global yang tak menentu, Indonesia harus tetap menjaga stabilitas dan kepentingan nasional di dalam negeri. Diplomasi penting, katanya, tetapi kehati-hatian lebih utama.
(Hariadi)






