Surat-Kabar.com | Sulteng – Kursi Kepala Kepolisian Daerah Sulawesi Tengah untuk sementara kosong. Endi Sutendi resmi memasuki masa purna tugas per 1 Mei 2026. Hingga kini, Markas Besar Polri belum menerbitkan telegram resmi penunjukan pengganti.
Kepala Bidang Humas Polda Sulteng, Djoko Wienartono, memastikan belum ada keputusan dari pusat. “Memang Pak Kapolda sudah memasuki masa purna, namun saat ini belum ada TR dari Mabes Polri terkait pergantian,” ungkap Djoko Wienartono, Selasa (5/5/2026).
Ketiadaan pejabat definitif membuat kendali operasional Polda Sulteng sementara dipegang wakilnya. Brigadir Jenderal Polisi Helmi Kwarta Kusuma Putra Rauf kini menjalankan fungsi komando harian.
“Karena kapolda memasuki masa pensiun, otomatis wakapolda yang mengendalikan operasional,” ungkapnya.
Situasi ini menempatkan Polda Sulteng dalam fase transisi. Sejumlah agenda strategis kepolisian di daerah tetap harus berjalan di tengah belum pastinya arah kepemimpinan definitif. Djoko meminta publik bersabar menunggu keputusan Mabes Polri.
“Kita tunggu saja. Kalau TR sudah turun, pasti akan disampaikan,” katanya.
Di luar pernyataan resmi, bursa calon Kapolda Sulteng mulai menghangat. Sejumlah nama perwira tinggi disebut-sebut memiliki peluang. Di antaranya, Irjen Polisi Reza Arief yang kini menjabat Wakil Komandan Korps Brimob dan pernah memimpin satuan Brimob di Sulteng.
Nama lain yang mencuat adalah Brigjen Polisi Adrianto Jossy, yang memiliki rekam jejak sebagai Kapolres Banggai. Selain itu, Irjen Polisi Mohammad Agung Budijono juga masuk dalam radar, dengan pengalaman serupa di wilayah yang sama.
Figur lain yang diperbincangkan ialah Brigjen Polisi Ahmad Ramadhan, yang pernah menjabat Wakapolda Lampung serta memimpin kepolisian di Tolitoli dan Palu.
Namun, dari sejumlah nama itu, sosok Helmi Kwarta Kusuma Putra Rauf disebut paling menguat. Selain kini memegang kendali operasional, ia memiliki rekam jejak panjang di Sulawesi Tengah, termasuk saat menjabat Direktur Reserse Kriminal Umum.
Statusnya sebagai putra daerah turut menjadi pertimbangan tersendiri di tengah harapan publik akan figur yang memahami karakter wilayah.
(Aditya)






