Surat-Kabar.com | Antrian kendaraan mengular di sejumlah SPBU di Makassar dan sejumlah daerah di Sulawesi Selatan hingga Sulawesi Barat mengakibatkan Pengemudi harus berjamjam menunggu untuk mendapatkan BBM bersubsidi.
Di tengah kondisi itu, Pertamina menyebut bukan kelangkaan yang terjadi, melainkan masyarakat sedang melakukan panic buying.
Kondisi di lapangan menunjukkan antrean BBM telah mengganggu aktivitas warga. Kendaraan yang hendak mengisi bahan bakar menumpuk di sekitar SPBU dan pada sejumlah titik memicu kemacetan.
Bagi pengemudi angkutan barang, antrean tersebut juga berarti waktu distribusi yang semakin panjang.
Mile, 49 tahun, sopir mobil kampas, mengatakan dirinya biasa menghabiskan satu hingga dua jam hanya untuk mendapatkan BBM, ia mengalami kondisi tersebut saat mengisi BBM di SPBU Jalan Perintis Kemerdekaan, Kota Makassar (10/9/2026).
“Lumayan lama antri, biasa satu sampai dua jam baru dapat giliran mengisi karena panjang antrian,” kata Mile.
Menurut Mile, antrian tidak hanya terjadi di Makassar, kondisi serupa ditemukan di sejumlah daerah yang menjadi jalur distribusi barang, seperti Parepare, Pinrang, Polewali Mandar hingga Mamuju, Sulawesi Barat.
Di Polewali Mandar, antrian disebut mencapai sekitar satu kilometer. Sebagian pengemudi bahkan memilih bertahan hingga malam untuk mendapatkan BBM.
Antrian panjang itu berdampak pada distribusi logistik. Sopir yang seharusnya segera mengantarkan barang justru kehilangan waktu di SPBU.
“Gara-gara antri BBM ini, waktu tempuh pengantaran barang memakan waktu yang jauh lebih lama dari biasanya,” ujar Mile.
Namun, Pertamina membantah terjadi kelangkaan BBM. Area Manager Communication, Relation, & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi, Lilik Hardiyanto, mengatakan stok BBM di Makassar dan sekitarnya masih mencukupi.
“Sebenarnya tidak ada kelangkaan. Stok BBM kami pastikan sangat mencukupi,” kata Lilik.
Menurut dia, membludaknya antrean terjadi karena panic buying. Masyarakat disebut datang ke SPBU secara bersamaan setelah muncul berbagai isu mengenai kondisi energi.
“Panic buying, di mana masyarakat berbondong-bondong datang ke SPBU dalam waktu yang bersamaan,” ujarnya.
Pertamina menyebut kepanikan masyarakat antara lain dipicu rumor pemadaman listrik berkepanjangan dan spekulasi mengenai kelangkaan energi. Kekhawatiran itu kemudian mendorong warga mengisi BBM untuk mengamankan kebutuhan masing-masing.
Di saat yang sama, Pertamina mengakui adanya peningkatan konsumsi BBM bersubsidi, terutama dari kendaraan angkutan barang dan sektor logistik.
Untuk mengatasi lonjakan permintaan, Pertamina mengklaim telah meningkatkan volume penyaluran BBM ke SPBU sekitar 10 hingga 15 persen di atas rata-rata konsumsi harian.
Pengiriman BBM dari fuel terminal juga disebut terus dioptimalkan agar pengisian tangki SPBU dapat berlangsung lebih cepat.
Persoalannya, klaim stok aman tersebut belum menghapus kenyataan yang dihadapi warga, antrian panjang, waktu tunggu berjamjam, kemacetan hingga terganggunya distribusi barang.
Pertamina menyebutnya panic buying. Bagi para pengemudi, panjangnya antrean tetap menjadi masalah yang harus mereka tanggung setiap hari.
(Anri S)






