Surat-Kabar.com | Sulbar – Api menghanguskan puluhan rumah panggung di Desa Galung Tulu, Kecamatan Balanipa, Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat, Sabtu malam, (28/2/2026).
Saat sebagian warga menunaikan salat Tarawih, kobaran api menjalar cepat di permukiman padat itu. Sebanyak 28 rumah ludes. Seorang warga lanjut usia dilaporkan meninggal dunia.
Kebakaran bermula ketika api tiba-tiba membesar dari salah satu rumah. Material bangunan yang didominasi kayu serta jarak antarrumah yang berhimpitan membuat si jago merah sulit dikendalikan. Dalam hitungan menit, api merambat dari satu bangunan ke bangunan lain.
“Api tiba-tiba membesar. Kami panik, cuma bisa selamatkan keluarga. Barang-barang tidak sempat diambil,” ujar seorang warga yang ditemui di lokasi kejadian.
Kepanikan kian menjadi ketika suara ledakan tabung gas elpiji bersahutan dari rumah-rumah yang terbakar. Warga berhamburan keluar, sebagian masih mengenakan sarung dan mukena. Mereka hanya membawa diri dan anggota keluarga, meninggalkan harta benda yang tak sempat diselamatkan.
Petugas pemadam kebakaran dari Kabupaten Polewali Mandar dibantu armada dari Kabupaten Majene berjibaku hampir dua jam memadamkan api. Sempitnya akses gang menuju titik kebakaran menjadi kendala utama. Mobil pemadam tak bisa leluasa mendekat, sementara api terus membesar.
Data sementara menyebutkan 28 rumah hangus terbakar dan 10 rumah terdampak. Sebanyak 47 kepala keluarga atau 137 jiwa terpaksa mengungsi. Namun pendataan lanjutan menunjukkan angka terdampak lebih besar.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Polman, Andi Chandra Sigit, mengatakan jumlah rumah yang rata dengan tanah mencapai 35 unit.
“Ada satu korban jiwa, warga lansia yang kaget melihat rumahnya terbakar. Kami terus mendata jumlah keluarga yang terdampak,” kata Andi Chandra
Korban meninggal berinisial M (61). Ia diduga mengalami serangan jantung akibat syok saat menyaksikan rumahnya dilalap api.
BPBD mencatat sedikitnya 173 jiwa kehilangan tempat tinggal. Sejak pukul 00.35 Wita, tim mendirikan tenda darurat dan dapur umum untuk memastikan kebutuhan makan sahur para pengungsi terpenuhi. Fokus penanganan sementara diarahkan pada evakuasi, penyediaan logistik, dan pendataan kerugian.
(A.Mus)






